PKBM 5 Warna: Kisah
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Tuesday, April 12, 2022

PERAN K.H. AHMAD DAHLAN DALAM PENDIDIKAN



Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan Hardiknas ini dikaitkan dengan kelahiran Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei 1889, dimana dalam perjuangannya dia mendiri sekolah Taman Siswa pada tahun 1922, perguruan yang sangat kuat menekankan rasa kebangsaan kepada para murid-muridnya.

Benarkah tonggak pendidikan nasional itu diletakkan pada Ki Hajar Dewantara?. Di sini banyak ahli yang mempersoalkannya, karena sesungguhnya jauh sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, ternyata sudah ada tokoh besar yang telah mendahului mendirikan pendidikan modern di Indonesia, yaitu K.H. Ahmad Dahlan. Pendidikan yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan ini tidak hanya mengajarkan rasa kebangsaan dan nasionalisme Indonesia, tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan secara luas serta menggerakkan rasa kemanusiaan.

Dari sini kita bertanya, sesungguhnya penentuan Hardiknas itu lebih tepat didasarkan pada kelahiran dan perjuangan Ki Hajar Dewantara atau K.H. Ahmad Dahlan. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan mengalami perkembangan yang sangat dahsyat, jauh meninggalkan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam konteks inilah kita perlu meluruskan sejarah pendidikan nasional Indonesia. Untuk menguatkan pengetahuan kita tentang sejarah pendidikan nasional penulis mengulas peran K.H. Ahmad Dahlan dalam membangun dan memajukan pendidikan di Indonesia.

Peran K.H. Ahmad Dahlan Dalam Pendidikan  

Membicarakan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pemikiran dan perjuangan K. H. Ahmad Dahlan. Mengapa demikian?, Karena K. H. Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah itu telah dikenal sebagai peletak dasar pendidikan modern di Indoneia. K.H. Ahmad Dahlan telah memainkan peran yang sangat penting dan strategis dalam melakukan modernisasi pendidikan Islam di Indonesia.

Gagasan K. H. Ahmad Dahlan tentang pendidikan berawal dari ketidakpuasan dirinya ketika melihat adanya dualisme sistem pendidikan, yaitu sistem pendidikan Islam yang berbasis di pesantren-pesantren dan sistem pendidikan sekuler (Barat) yang berbasis di sekolah-sekolah yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda. K.H. Ahmad Dahlan memandang kedua jenis pendidikan tersebut dengan kaca mata tersendiri. Ia tidak cenderung kepada salah satunya, tetapi melihat segi-segi posistif dari keduanya. K.H. Ahmad Dahlan memberikan penilaian yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah Belanda, tetapi tidak mengurangi nilai dan penghargaan yang utuh terhadap ilmu-ilmu agama yang terdapat dalam lembaga-lembaga pendidikan pesantren.

Agaknya keinginan untuk mengompromikan segi-segi positif dari kedua jenis pendidikan di atas itulah, di samping untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat, K.H. Ahmad Dahlan mencetuskan ide-ide dan pemikirannya yang kemudian menjadi bagian dari sistem pendidikan Muhammadiyah. Pemikiran tersebut bisa dilihat dari karya nyatanya di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah yang didirikannya. Model pendidikan Muhammadiyah ini kemudian diadopsi dan dijadikan model sistem pendidikan nasional.

Sekolah pertama yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan adalah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada tanggal 11 Desember 1911 di Kauman Yogyakarta. Sekolah pertama yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan ini dibuka di rumahnya dengan sistem Barat, memakai meja, kursi, dan papan tulis. Materi pelajaran yang diberikan meliputi materi agama yang biasa diajarkan di pesantren dan materi umum yang biasa diajarkan di sekolah Belanda. Munir Mulkhan menyebutkan bahwa “sekolah tersebut dikelola secara modern dengan metode dan kurikulum baru: antara lain diajarkan berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pada awal abad 20,”

Arbiah Lubis mengelompokkan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam pendidikan yang dilakukannya pada dua hal pokok, yaitu memasukkan pelajaran agama ke dalam lembaga pendidikan Barat dan melakukan pembaharuan sistem pendidikan dengan mengompromikan antara sistem pendidikan Islam dan Barat. Yang pertama dilakukan terutama dalam kapasitasnya sebagai guru di sekolah pemerintah Belanda dan yang kedua dengan mendirikan sekolah sendiri yang kemudian dinamakan sekolah Muhammadiyah.

Steenbrink juga melihat bahwa di antara pemikiran pokok Ahmad Dahlan dalam pendidikan adalah: pertama, memasukkan pelajaran agama ke dalam lembaga pendidikan Barat. Perbandingan pelajaran agama pada sekolah itu berkisar antara 10% – 15% dari seluruh kurikulumnya. Kedua, penerapan sistem pendidikan Barat dalam lembaga pendidikan agama. Sistem pendidikan Barat dimaksud di sini adalah cara yang diterapkan di lembaga pendidikan kolonial Belanda  dalam beberapa komponen pendidikan, sehingga melahirkan sistem pendidikan baru yang merupakan kompromi antara sistem pendidikan kolonial dengan sistem pendidikan tradisional. sistem pendidikan baru inilah tampaknya yang menjadi ciri khas sistem pendidikan Muhammadiyah (Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah. Jakarta: LP3ES, 1989, hal. 54-55).

Asrofie dalam studinya “Kyai Haji Ahmad Dahlan; Pemikiran dan Kepemimpinannya” mencatat bahwa:

“Dalam kesibukannya memberikan pelajaran agama di sekolah pemerintah, ia mendirikan sekolah yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di rumahnya. Ini terjadi pada tahun 1911. Sekolah ini menggunakan sistem Barat, memakai meja, kursi dan papan tulis. Diberikan pula pelajaran pengetahuan umum dan pelajaran agama di dalam kelas. Pada waktu itu anak-anak Kauman masih merasa asing pada pelajaran dengan sistem sekolah. Dia mengadakan modernisasi dalam bidang pendidikan Islam, dari sistem pondok yang hanya diajar secara perorangan menjadi secara kelas dan ditambah dengan pelajaran pengetahuan umum” (Yusron Asrofi, Kyai Haji Ahmad Dahlan : Pemikiran dan Kepemimpinannya, Yogyakarta, 1983, 51).

Ahmad Jainuri menyatakan bahwa berdirinya lembaga pendidikan Muhammadiyah ini mempunyai dua sasaran utama. Pertama, untuk memberantas buta huruf, ditujukan kepada masyarakat luas, sejalan dengan usaha ini adalah dikembangkannya kursus untuk mengkaji Islam dan berbagai materi yang saling berkaitan, termasuk kemampuan berorganisasi. Semua kegiatan ini menumbuhkan semangat membaca dan akhirnya berimplikasi pada munculnya berbagai publikasi seperti koran, majalah dan buku-buku yang menjamur pada tahun 1920 dan 1930-an. Kedua, mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Untuk mewujudkannya Ahmad Dahlan mengambil langkah awal dengan mendirikan sekolah (madrasah) yang terletak di rumahnya sendiri untuk memberikan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak tetangganya yang tidak mampu atau tidak punya akses pada sekolah-sekolah pemerintah.

Lebih lanjut Ahmad jainuri menegaskan bahwa pendirian madrasah ibtidaiyah diniyah ini mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalm pembentukan wawasan keagamaan dan pendidikan. Pendidikan di madrasah ini di disain oleh Ahmad Dahlan untuk memberikan pengetahuan agama dan sekaligus pengetahuan umum. Kurikulum madrasah ibtidaiyah diniyah dalam banyak hal menyerupai kurikulum sekolah pemerintah, dengan menekankan khususnya pengetahuan praktisdari ilmu-ilmu modern. Sekolah ideal ini kemudian diperluas oleh Muhammadiyah dan di dirikan di daerah Yogyakarta selatan, didesain untuk melahirkan manusia yang berbudi baik, berpengetahuan dalam ilmu agama dan sekuler, dan mau bekerja untuk kemajuan masyarakatnya. (Achmad Jainuri, Idiologi Kaum Reformis, Melacak Pandangan Keagamaan Muhammadyah Periode Awal, LPAM, Surabaya, 2002, 195-200).

Abuddin Nata menyatakan bahwa Ahmad Dahlan memiliki pandangan yang sama dengan Ahmad Khan (Tokoh Pembaharu Islam India) mengenai pentingnya pembentukan kepribadian. Akhmad Dahlan menganggap bahwa pembentukan kepribadian ssebagai target penting dari tujuan pendidikan. Ia berpendapat bahwa tak seorang pun dapat mencapai kebesaran di dunia ini dan di akhirat kelak kecuali mereka yang memiliki kepribadian yang baik. Dalam studinya lebih lanjut, Abuddin Nata menyatakan sebagai berikut:

”Ahmad Dahlan juga berpandangan bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk kemajuan materiil. Oleh karena itu pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat di mana siswa itu hidup. Dengan pendapatnya yang demikian itu, sesungguhnya Ahmad Dahlan mengkritik kaum tradisionalis yang menjalankan model pendidikan yang diwarisi secara turun-temurun tanpa mencoba melihat relevansinya dengan perkembangan jaman.” (Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharu Pendidikan Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, 102).

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang seperti itu merupakan respon pragmatis terhadap kondisi ekonomi umat Islam Indonesia yang tidak menguntungkan, sebagi akibat dari ketidakmampuan umat Islam membuka akses ke sektor-sektor pemerintah atau perusahaan-perusahaan swasta. Situasi yang demikian itu menjadi perhatian Ahmad Dahlan, yang kemudian ia berusaha untuk memperbarui sistem pendidikan umat Islam. Ahmad Dahlan sadar, bahwa tingkat partisipasi umat Islam yang rendah pada sektor-sektor pemerintah itu karena kebijakan pemerintah kolonial yang menutup peluang bagi Muslim untuk masuk. Oleh karena itu K.H. Ahmad Dahlan berusaha memperbaikinya dengan memberikan pencerahan tentang pentingnya pendidikan yang sesuai dengan dengan perkembangan jaman bagi kemajuan bangsa.

Berdasarkan kajian di atas, terlihat bahwa K.H. Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan self corrective terhadap umat Islam. Dalam pandangannya muslim tradisional terlalu menitikberatkan pada aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Sikap semacam ini mengakibatkan terjadinya kelumpuhan dan bahkan kemunduran Dunia Islam, sementara kelompok yang lain telah mengalami kemajuan di bidang ekonomi. K.H. Ahmad Dahlan terobsesi dengan kekuatan sistem pendidikan Barat seperti terlihat pada sekolah-sekolah Belanda. Sistim pendidikan yang dikembangkan oleh K.H. Ahmad Dahlan mengikuti pola Barat dengan memberikan penguatan pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Dengan demikian, peran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan adalah upaya mengompromikan beberapa unsur positif dari sistem pendidikan Islam dan sistem pendidikan Barat. Model pendidikan ini, dibuktikan dengan karyanya yang nyata, yaitu lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah di seluruh Nusantara ini, yang kini jumlahnya mencapai puluhan ribu, mulai PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, sampai dengan Pendidikan Tinggi Muhammadiyah. Majulah Pendidikan Muhammadiyah dan Jayalah Indonesia.

Sumber : https://umsida.ac.id/%EF%BB%BFperan-k-h-ahmad-dahlan-dalam-pendidikan/

Kiai Hasyim Asy’ari, Pewaris Sistem Pendidikan Tradisional Pondok Pesantren

 


Foto untuk : Kiai Hasyim Asy’ari, Pewaris Sistem Pendidikan Tradisional Pondok Pesantren

Nama lengkapnya Muhammad Hasyim atau biasa dikenal dengan Kiai Hasyim Asy’ari. Salah seorang tokoh Indonesia lainnya yang bergerak dalam dunia pendidikan. Terutama dalam dunia pendidikan tradisional Pondok Pesantren (Ponpes). Kiai Hasyim yang lahir sebelum kemerdekaan, tepatnya pada 14 Februari 1871, semasa kecilnya sudah berbaur dengan linkungan ponpes. Karena ayah, kakek & kakek buyut dari Kiai Hasyim, masing-masing merupakan pendiri ponpes. Nilai dan sistem pendidikan pesantren dengan begitu bisa terwariskan dari generasi ke generasi.

Setelah menanam benih ilmu dan pengetahuan, terutama dalam hal keagamaan Islam di berbagai lingkungan pesantren, termasuk berguru dengan sang ayah. Perjuangan Kiai Hasyim dalam menuntut ilmu pengetahuan terus berkelanjutan. Lalu, Kiai Hasyim pun melanglang buana ke kota Makkah untuk menyuburkan benih ilmu yang sebelumnya telah ditanam. Disana, sang Kiai beguru dengan para ulama besar. Salah satunya yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang juga berasal dari Nusantara. 

Sekitar tujuh tahun, Kiai Hasyim di Makkah menyuburkan ilmunya. Jangka waktu yang tidak terlalu lama, karena memang sebelumnya Kiai Hasyim membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan, terutama dalam hal keilmuan agama Islam dari berbagai pondok pesantren yang ada di tanah Jawa. Kembalinya ke tanah air, Kiai Hasyim mendirikan ponpes di sebuah pedukuhan wilayah administratif Kabupaten Jombang. Sesuai dengan nama pedukuhan, ponpes tersebut bernama ponpes Tebuireng.

Awalnya, pada 26 Rabiul Awal 1317 H (3 Agustus 1899) Kiai Hasyim bersama dengan istrinya, Nyai Khodijah, mendirikan sebuah bangunan kecil yang sangat sederhana. Bangunan  tersebut, oleh Kiai Hasyim dijadikan sebagai tempat tinggal, tempat belajar mengajar sekaligus tempat beridabah. Ketika itu, jumlah santri hanya 8 santri. Tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 santri. Di sana juga, Kiai, istri Kiai dan santri-santrinya tidak luput dari ancaman dan penolakan warga sekitar. Karena di daerah tersebut, pola pikir masyarakatnya sudah terpengaruhi oleh kolonial Belanda.

Namun, dengan pendekatan kharismatik sang Kiai Hasyim. Warga setempat, berangsur-angsur memahami dan menerima keberadaan pondok pesantren sederhana tersebut. Hingga pada tahun 1910, jumlah santri bertambah sekitar 200 dan 10 tahun kemudian melonjak naik mejadi sekitar 2000 santri. Hingga kini, keberadaan pesantren yang ada masih diminati oleh kalangan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu pengetahuan. Terutama mendalami ilmu keagamaan.    

Sumber bacaan dan foto:

https://tebuireng.online/sejarah/

https://tirto.id/kh-hasyim-asyari-ahli-hadis-sokoguru-islam-tradisionalis-dsfQ

https://kumparan.com/kumparannews/mengenal-sosok-pendiri-nu-kh-hasyim-asy-ari-1548894082114734154

Friday, September 3, 2021

Bapak Pendidikan Indonesia, Suwardi Suryaningrat



Ada yang tahu siapa Suwardi Suryaningrat? Hmm, kalau sedikit asing, siapa yang kenal dengan Ki Hajar Dewantara? Yap, keduanya adalah tokoh yang sama. Kendati demikian, Nama Ki Hajar Dewantara lebih populer ketimbang Suwardi Suryaningrat yang merupakan nama asli beliau.

Tokoh Pahlawan Pendidikan Indonesia ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Berkat perjuangan dan pemikiran beliau, hari kelahirannya pada 2 Mei ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional.

Meski dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, belum banyak yang mengetahui seperti apa kiprah perjuangan dan pemikiran beliau bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Oleh karena itu, yuk simak artikel ini untuk mengetahui informasi selengkapnya!

Raden Mas Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Beliau berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya yang bernama Kanjeng Pangeran Ario Suryaningrat dan ibunya yang bernama Raden Ayu Sandiah merupakan bangsawan Puro Pakualaman Yogyakarta. 

Lahir dari keluarga bangsawan tidak serta-merta membuat Suwardi Suryaningrat abai terhadap masa depan generasi penerus bangsa. Ia memandang politik pemerintah Hindia-Belanda sangat diskriminatif terhadap kaum bumiputera. Oleh karena itu, Suwardi Suryaningrat terus berupaya memperjuangkan hak-hak kesetaraan kaum bumiputera dengan kaum penjajah.

Masa pendidikan

Berkat kebangsawanannya, Suwardi Suryaningrat berhak mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Belanda. Setelah tamat dari ELS pada 1904, beliau ditawari menjadi mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen) – Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.

Ia menerima tawaran tersebut dan sempat merasakan bangku pendidikan di STOVIA pada 1905—1910. Namun karena sakit, ia tidak naik kelas dan beasiswanya pun dicabut. Ada sinyalisasi bahwa pencabutan beasiswa beliau tidak murni karena sakit, tetapi karena ada muatan politis dari pemerintah Hindia-Belanda.

Beberapa hari sebelum beasiswanya dicabut, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara memang sempat mendeklarasikan sajak yang menggambarkan keperwiraan Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang panglima perang Diponegoro. 

Ada dugaan bahwa pemerintah Hindia-Belanda tidak senang terhadap sikap Suwardi Suryaningrat yang membangkitkan semangat nasional untuk memberontak. Beliau memang terkenal pedas dalam memberi kritikan terhadap pemerintah Hindia-Belanda. 

Kritikan Pedas Seorang Jurnalis

Setelah gagal menjadi dokter di STOVIA, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara banting setir menjadi jurnalis dan bergabung dengan berbagai organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.

Di Indische Partij, ia memiliki rekan seperjuangan, yaitu Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (dikenal dengan Danudirja Setiabudi) dan dr. Cipto Mangunkusumo. Ketiganya dijuluki sebagai “Tiga Serangkai”.

Kritikan Suwardi Suryaningrat semakin pedas, ia pernah menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia. Menurutnya penjajah tidak sepatutnya merayakan kemerdekaan di tanah jajahannya, bahkan dibiayai oleh rakyat pribumi.

Ia menyalurkan protes tersebut melalui risalah yang berjudul “Als ik eens Nederlander was” (Andai aku seorang Belanda) pada Juli 1913. Risalah yang dicetak sebanyak 5.000 eksemplar ini membuat pemerintah Hindia-Belanda naik pitam.

Pengasingan ke Belanda

Setelah itu, “Tiga Serangkai” diasingkan ke Belanda. Di negeri orang, Suwardi Suryaningrat hidup dengan segala keterbatasannya. Ia bertahan hidup dengan menjadi jurnalis untuk surat kabar dan majalah Belanda.

Surat-surat kabar Belanda yang bersikap sangat bersahabat dengan Tiga Serangkai yaitu “Het Volk” dan “De Nieuwe Grone Amsterdamer” memberi kesempatan kepada Tiga Serangkai untuk menulis dan menyalurkan pikiran-pikiran tentang cita-cita perjuangan kemerdekan bangsa Indonesia. 

Berkat pengaruh Tiga Serangkai, maka penghimpunan para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda yang tergabung dalam “Indische Vereeniging” semakin menonjolkan semangat kebangsaan dan semangat kemerdekaan, dan berani mengubah namanya menjadi “Perhimpunan Indonesia”.

Pengetahuan dan pemahaman sejarah sosial pendidikan yang memberi pencerahan dan pemikiran Suwardi Suryaningrat, justru ketika beliau menjalani masa pembuangan di negeri Belanda. Di sanalah beliau banyak mempelajari masalah pendidikan dan pengajaran.

Taman Siswa

Setelah kembali ke Indonesia, Suwardi Suryaningrat diingatkan oleh istrinya mengenai gagasan yang pernah ia sampaikan kepada K. H. Ahmad Dahlan tentang harus adanya perguruan nasional yang mendidik kader-kader perjuangan untuk menentang penjajah.

Pada akhirnya ia dan kawan-kawan pun mendirikan “Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa” di Yogyakarta pada 3 Juli 1922. Perguruan Nasional Taman Siswa membuka sekolah berbagai tingkat, mulai dari taman kanak-kanak hingga pendidikan menengah atas.

Lahirnya Perguruan Nasional Taman Siswa mendapat sambutan baik dari masyarakat banyak. Ratusan Perguruan Nasional Taman Siswa tumbuh di mana-mana dijiwai oleh semangat cinta Tanah Air. Suwardi Suryaningrat dengan Taman Siswanya terkenal di mana-mana.

Dengan berdirinya Taman Siswa, Suwardi Suryaningrat telah berhasil mendirikan lembaga pendidikan yang meletakkan dasar-dasar pendidikan yang memerdekakan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi sistem pendidikan nasional di Tanah Air.


Nama “Ki Hajar Dewantara”


Pada 3 Februari 1928, Suwardi Suryaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Utomo Darmadi, Hadjar artinya pendidik, Dewan artinya utusan, dan Tara artinya tak tertandingi. Jadi maknanya dari nama Ki Hajar Dewantara adalah Bapak Pendidik Utusan Rakyat yang Tak Tertandingi Menghadapi Kolonialisme.


Akhir Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Setelah memimpin Perguruan Nasional Taman Siswa yang telah tersebar di seluruh Indonesia selama 37 tahun lamanya, Ki Hajar Dewantara tutup usia pada 26 April 1959 di Padepokan Ki Hajar Dewantara. Beliau disemayamkan di Pendopo Agung Taman Siswa Yogyakarta.

Perginya Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara tidak mengakhiri perjuangan beliau begitu saja. Ki Hajar Dewantara telah meninggalkan warisan yang begitu penting bagi Indonesia, khususnya di bidang pendidikan. Beliau mewariskan sistem pendidikan dan semangat juang untuk anak-anak bangsa dalam menempuh pendidikan yang layak. 

Beberapa semboyannya dipakai oleh negara seperti Tut Wuri Handayani yang saat ini menjadi semboyan pendidikan serta logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain semboyan Tut Wuri Handayani, salah satu semboyan Ki Hajar Dewantara yang meningkatkan semangat perjuangan adalah “Lebih Baik Mati Terhormat Daripada Hidup Nista”. Semboyan ini digaungkan ketika menentang Undang-undang Sekolah Liar tahun 1932.

Entah Suwardi Suryaningrat ataupun Ki Hajar Dewantara, beliau dimuliakan, dihormati, dan dijunjung tinggi bukan karena keturunan bangsawan dan bukan karena banyak hartanya, tetapi karena amal dan jasanya yang luar biasa bagi sesama, bangsa, dan negara.

Referensi: Buku Ki Hajar Dewantara Pemikiran dan Perjuangannya terbitan Museum Kebangkitan Nasional tahun 2017

Penulis: Pengelola Web Direktorat SMP

Ad Placement

Kisah

Tokoh

Humor